A.
PENTINGNYA KAJIAN
TENTANG HAKIKAT MANUSIA DALAM PEDAGOGI
Secara umum pedagogik
merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana pendidik membimbing anak, berhadapan
dengan anak, memahami tugas pendidik dalam mendidik anak, dan apa yang menjadi
tujuan mendidik anak. Pendidik merupakan salah satu komponen penting dalam proses
pendidikan, karena dipundaknyalah terletak tanggung jawab yang besar dalam
upaya mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang telah
dicitakan.
Pada dasarnya, tugas utama
pandidikan adalah menumbuhkan potensi-potensi yang
sudah ada pada manusia menjadi kemampuan-kemampuan atau
keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan manusia
dimasa akan datang. Upaya dalam rangka menumbuhkan kemampuan
atau keterampilan ini
maka seorang pendidik harus pengetahui hakikat manusia yang ada pada peserta
didik. Hakikat manusia ini sendiri memiliki banyak arti, tergantung perspektif
dari pengamat itu sendiri. Menurut pandangan Islam terdapat 6 hakikat manusia
yaitu manusia sebagai hamba Allah, Annas, khalifah, makhluk biologis, Al-Insan,
Bani Adam. Dari hakikat-hakikat ini seorang pendidik dapat menentukan cara
menumbuh kembangkan anak untuk mencapai tujuan hidupnya. Sebagai contoh hakikat
manusia sebagi hamba Allah, dengan hakikat ini maka seorang guru akan tahu
bagaimana menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total
manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan, dan
kepekaan tubuh manusia. Sehingga pendidikan adalah usaha menyediakan jalan bagi
pertumbuhan peserta didik dalam segala aspeknya: spiritual,
intelektual, imjinasi, fisik, ilmiah, sosial, dan memotivasi peserta
didik
untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan hidup dimasa akan
datang.
B.
HAKIKAT MANUSIA
1.
Makhluk Pendidikan
Manusia sering
disebut senagai animal educandum artinya manusia merupakan hewan yang dapat
didik dan harus didik. Dari sudut pandangan Islami manusia adalah makluk
ciptaan Allah yang paling semurna dilengkapi dengan potensi-potensi yang telah
Allah berikan baik jasadiah, aqliah ruh serta nafs, sehingga memungkinkan
manusia dapat dididik dan menerima pendidikan. Melalui potensi-potensi tersebut
dapat dijadikan landasan untuk menyusun filsafat hidup, menemukan pedoman
hidup, mengatur sikap dan prilaku hidup agar terarah pada tujuan hidup.
Selain itu manusia dari
sudut pandanang ilmu filsafat adalah manusia yang paling istimewa karena tidak
semua makhluk berada pada setiap tingkatan lapisan makhluk hidup. Manusia berada tingkat makhluk yang memiliki prilaku
nabati (bernafas), prilaku hewan, yang berua instingtif (mempertahankan diri, lapar,
insting sex, dan dibekali panca indra), prilaku insani (social, berbahasa
simbolis, menyadari nilai-nilai etika dan estetika, menguasai hawa nafsu,
kesadaran intelektual dan seni), prilaku mutlak (menghayati kehidupan beragama.
Selain itu manusia
digolongkan makhluk pendidikan karena manusia adalah makhluk yang harus dididik
karena manusia lahir keduniaa dalam keadaan tidak berdaya dan membutuhkan
bantuan ayah dan ibu untuk melangsungkan hidup, menusia lahir tidak langsung
dewasa sehingga harus dipersiapkan agar dapat menghadapi kehidupan dewasa ,
manusia tidak dapat hidup sendiri yang membutuhkan interaksi dengan sesama.
2.
Dunia manusia adalah
dunia terbuka
Dikatakan dunia
manusia adalah dunia terbuka artinya manusia adalah makhluk yang belum siap
menghadapi kehidupan. Dimana manusia lahir terlalu dini dan belum siap
melaksanakan tugas kehidupannya, sehingga manusia harus menemukan
kepribadiannya. Selain itu prinsip keterbukaan manusia dilihat dari manusia
mampu menggunakan alat melalui anggota tubuhnya. Hal ini terbukti dengan adanya
inisiatif daya kreasi manusia, kemampuan untuk merealisasikan diri, menyadari
lingkungan, keterarahan hidup manusia kepada lingkungan, dan kesadaran manusia
akan tugasnya dalam lingkungan hidup. Selajutnya prinsip keterbukaan manusia
dilihat dari manusia makhluk yang perlu didik sehingga memungkinkan manusia
menerima pendidikan yang mampu menjadikan manusia yang cakap. Keterbukaan
dalam perkembangan manusia ini memungkinkan manusia berkembang sesuai kodrat
dan martabat kemanusiaannya atau mampu menjadi manusia, sebaliknya mungkin pula
ia berkembang ke arah yang kurang sesuai atau bahkan tidak sesuai dengan kodrat
dan martabat kemanusiaannya.
3. Manusia adalah makhluk belum selesai
Manusia tidak mampu
menciptakan dirinya sendiri, beradanya manusia di dunia bukan pula sebagai
hasil evolusi tanpa pencipta sebagaimana di yakini penganut Evolusionisme,
melainkan sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai kesatuan badani-rohani manusia
memiliki historisitas dan hidup bertujuan.Karena itu, eksistensi manusia
terpaut dengan masa lalunya (misal ia berada karena diciptakan Tuhan, lahir
didunia dalam keadaan tidak berdaya sehingga memerlukan bantuan orang tuanya
atau orang lain dan seterusnya), dan sekaligus menjangkau masa depan untuk
mencapai tujuan hidupnya. Manusia berada dalam perjalanan hidup, perkembangan
dan pengembangan diri. Ia adalah manusia, tetapi sekaligus “belum selesai”
mewujudkan diri sebagai manusia. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus
berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya. Manusia tidak bisa
menciptakan dirinya sendiri, beradanya manusia di dunia bukan juga karena hasil
evolusi tanpa Pencipta sebagaimana diyakini penganut Evolusionisme,
melainkan sebagai ciptaan Tuhan. Manusia bereksistensi di dunia. Artinya, manusia secara
aktif “mengadakan” dirinya, tetapi bukan dalam arti menciptakan dirinya
sebagaimana Tuhan menciptakan manusia, melainkan manusia harus bertanggung
jawab atas keberadaan dirinya, ia harus bertanggung jawab menjadi apa atau
menjadi apa nantinya. Berinteraksi berarti merencanakan, berbuat, dan menjadi
sehingga dengan demikian setiap manusia dapat menjadi lebih atau kurang dari
keadaannya. Dalam kalimat lain dapat dinyatakan bahwa manusia bersifat terbuka,
manusia adalah makhluk yang belum selesai mengadakan” dirinya.
4.
Manusia makhluk yang
mampu bereksitensi
Kemampuan
bereksistensi dimaksudkan manusia tidak hanya “ber-ada” (seperti hewan dan
tumbuhan) tetapi juga “meng-ada” , dimana manusia tidak hanya bagian lingkungan
seperti hewan dan tumbuhan tetapi manusia menjadi manajer lingkungan (mengolah,
mengendalikan). Manusia adalah eksistensi”. Manusia tidak hanya ada atau
berada di dunia ini, tetapi ia secara aktif “ mengada”. Manusia tidak semat-mata
tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaannya, tetapi ia selalu
secara sadar dan aktif manjadikan dirinya sesuatu. Proses perkembangan manusia
sebagian ditentukan oleh kehendaknya sendiri. Berbeda dengan makhluk-makhluk
lainnya yang sepenuhnya tergantung kepada alam. Kebutuhan untuk terus-menerus
menjadi inilah yang khas manusiawi dan karenanya pulalah manusia bisa berkarya,
bisa mengatur dunia untuk kepentingannya sehingga timbulah kebudayaan dalam
segala bentuknya itu, yang tidak terdapat pada makhluk lainnya. Bentuk-bentuk
kebudayaaan ini antara lain adalah sistem perekonomian, kehidupan sosial dengan
norma-normanya dan kehidupan politik. Di sinilah Psikologi berinteraksi dengan
ilmu-ilmu lain seperti; Antropologi dan Sosiologi.
5.
Manusia adalah
makhluk religius
Dalam keberagaman ini
manusia dapat meraskan hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh kejelasan
tentang asal-usulnya, dasar hidupnya, tata carahidupnya, dan menjadi jelas pula
kemana arah tujuan hidupnya. Pada hakikatnya manusia
adalah makhluk yang beragama. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena
manussia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Untuk
itu, ia dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan. Dalam hal ini orang tualah yang
paling cocok sebagai pendidik karena pendidikan agama adalah persoalan afektif
dan kata hati. Makhluk religi, yaitu manusia sebagai makhluk yang cenderung
untuk beragama, karena manusia mempercayai adanya kekuatan yang prima di luar
dirinya. Manusia diciptakan Tuhan
Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna
dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa
berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik.
Di sisi lain, manusia
meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada
kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, sudah
menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang
mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi. Dalam kehidupannya, manusia
tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu
yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu
merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada
Tuhannya. Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan
tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun
diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan.
Dengan pendidikan, manusia
dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti
bagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui sebuah pendidikan
yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimana
seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat
mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan
baik yang tersirat ataupun dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari
Komentar
Posting Komentar